<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://biwirjeding.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://biwirjeding.wordpress.com</link>
	<description>dahulukan ilmu dari pada ucapan dan perbuatan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Dec 2008 08:15:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='biwirjeding.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://biwirjeding.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://biwirjeding.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ANCAMAN GIGI TERHADAP JANTUNG</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/12/24/35/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/12/24/35/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 07:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Bakteri pathogen dalam gigi dan mulut dapat masuk ke aliran darah melalui jantung Penyakit pada gusi belum dikenal sebagai factor risiko penyebab penyakit jantung. Namun, ternyata terdapat hubungan antara penyakit periodontal dan penyakit jantung koroner. Bakteri yang terdapat pada gusi dapat menyebabkan penyakit kardio vascular. Hal itu terungkap dalam semiloka bertema Gigi dan Mulut Sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=35&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><a href="https://sneakmyass.in/?s=aHR0cDovL3d3dy5tYWphbGFoLWZhcm1hY2lhLmNvbS9ydWJyaWsvb25lX25ld3NfcHJpbnQuYXNwP0lETmV3cz00NzQ%3D" target="_blank"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;                  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></a><a title="Click here to send this page to your friend" href="https://sneakmyass.in/?s=aHR0cDovL3d3dy5tYWphbGFoLWZhcm1hY2lhLmNvbS9ydWJyaWsvZW1haWxfZnJpZW5kLmFzcD9pZD00NzQmY2lkPTE%3D"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;&lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></a></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Bakteri pathogen dalam gigi dan mulut dapat masuk ke aliran darah melalui jantung</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Penyakit pada gusi belum dikenal sebagai factor risiko penyebab penyakit jantung. Namun, ternyata terdapat hubungan antara penyakit periodontal dan penyakit jantung koroner. Bakteri yang terdapat pada gusi dapat menyebabkan penyakit kardio vascular. Hal itu terungkap dalam semiloka bertema Gigi dan Mulut Sebagai<em> Focal Infection</em> Penyakit Kardiovaskular, yang diadakan di Hotel Crowne, Maret lalu.</span></p>
<p><span style="color:#003300;"><span id="more-35"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Secara umum, bakteri yang terdapat pada gusi mempunyai peluang menjadi penyebab tiga penyakit sistemik, yaitu Diabetes Melitus, penyakit kardiovaskular, dan masalah penggumpalan darah. Namun dari ketiganya, yang paling cepat terpengaruh adalah penyakit kardiovaskular karena bakteri dalam gigi dapat langsung masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah,� ujar Drg. Melanie Sadono.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Menurut Melanie, pasien dengan penyakit gusi yang mengalami gusi berdarah harus lebih berhati-hati karena bakteri pathogen dalam gigi dan mulut dapat ikut masuk ke aliran darah melalui jantung. �Masalah gusi berdarah yang biasa kita alami saat menyikat gigi terlalu keras atau mengunyah makanan keras juga harus diwaspadai karena darah yang keluar dapat membawa bakteri pathogen,� ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dr. A. Sari Mumpuni, SpJp mengatakan bahwa bakteri yang beredar tersebut dapat menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah koroner yang dapat menimbulkan aterosklerosis. Infeksi gusi yang berdarah, menyebabkan bakteri dapat memasuki aliran darah dan selanjutnya terjadi peningkatan kadar factor-faktor peradangan dalam darah seperti fibrinogen, C-reaktif protein, dan beberapa hormone protein.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Bakteri dalam aliran darah juga dapat tersangkut pada katup jantung abnormal atau kerusakan jantung lain,� ujar Sari. Jika itu terjadi, maka dapat menyebabkan endokarditis bakterialis yang dapat merusak atau mengancurkan katup jantung. Seseorang berisiko terkena bakteriemia jika sebelumnya sudah mempunyai kelianan jantung, memiliki katup jantung buatan, katup yang rusak akibat oenyakit reumatik, defek katup jantung, atau kardiomiopati hi[ertrofi. Beberapa prosedur juga berisiko endokarditis seperti pembersihan giggi, tonsilektomi, bronkoskopi, bedah kandung kemih, atau operasi by-pass.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Selain penyakit jantung koroner dan endokarditis bakterialis, beberapa jenis penyakit jantung yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus antara lain kardiomiopati atau perikarditis.<br />
</span> <a href="#top"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=35&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/12/24/35/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wasiat Aqidah Imam Syafi&#8217;i</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/08/12/wasiat-aqidah-imam-syafii/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/08/12/wasiat-aqidah-imam-syafii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 13:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Imam Syafi&#8217;i, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal Imam Syafi&#8217;i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adalah tokoh dari kalangan umat Islam dengan multi keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits). Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=11&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-17" style="border:0 none;margin:10px;" src="http://biwirjeding.files.wordpress.com/2008/08/butterfly2.jpg?w=113&#038;h=137" alt="" width="113" height="137" /><span style="color:#003300;"><strong>Imam Syafi&#8217;i</strong>, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama 			ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti 			Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal 			Imam Syafi&#8217;i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal 			beliau adalah tokoh dari kalangan umat Islam dengan multi 			keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki 			Nashirul Hadits (pembela hadits). Dan Imam Adz-Dzahabi menjuluki 			beliau dengan sebutan Nashirus Sunnah (pembela sunnah) dan salah 			seorang Mujaddid (pembaharu) pada abad kedua hijriyah.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">Muhammad bin Ali bin 			Shabbah Al-Baldani berkata: &#8220;Inilah wasiat Imam Syafi&#8217;i yang 			diberikan kepada para sahabatnya, &#8216;Hendaklah Anda bersaksi bahwa 			tiada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh Yang Maha Satu, yang 			tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah 			adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara 			satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan 			matiku hanya untuk Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala semata, Tuhan semesta 			alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun. Untuk itulah aku 			diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri 			kepadaNya. <span id="more-11"></span>Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala membangkitkan 			orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu haq, 			adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta 			jembatan itu haq dan benar adanya. Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala 			membalas hambaNya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas 			keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi 			InsyaAlloh. Sesungguhnya Al-Qur&#8217;an itu adalah kalam Alloh 			Subhanahu wa Ta&#8217;ala, bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Alloh 			Subhanahu wa Ta&#8217;ala di hari akhir nanti akan dilihat oleh 			orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada 			suatu penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia 			berada di atas &#8216;Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah 			berasal dari Alloh Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi 			sesuatu kecuali apa yang Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala kehendaki dan 			Dia tetapkan dalam qadha&#8217; qadarNya.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">Sesungguhnya 			sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasullulloh shallallahu 			&#8216;alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali 			radhiallahu&#8217;anhum. Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan 			memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan 			Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap 			Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan 			Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah) selama mereka mendirikan sholat. Tidak 			boleh membangkang serta memberontak mereka dengan senjata. 			Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy. Dan 			sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun 			diharamkan. Dan nikah mut&#8217;ah adalah haram.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">Aku berwasiat 			kepadamu dengan taqwa kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, konsisten 			dengan sunnah dan atsar dari Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wa 			sallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid&#8217;ah dan hawa nafsu. 			Bertaqwalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala sejauh yang engkau 			mampu. Ikutilah shalat Jum&#8217;at, jama&#8217;ah dan sunnah (Rasullulloh 			Shallallahu&#8217;alaihi wasallam). Berimanlah dan pelajarilah agama 			ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah 			aku membaca &#8220;Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna 			Muhammadan &#8216;abduhu warasuluh&#8221;.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">Di antara yang 			diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu&#8217;aib tentang wasiat Imam Syafi&#8217;i 			adalah: &#8220;Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid 			dengan sebuah dosa, sekalipun mengerjakan dosa besar, aku serahkan 			mereka kepada Alloh Azza Wajalla dan kepada takdir serta 			iradah-Nya, baik atau buruknya, dan keduanya adalah makhluk, 			diciptakan atas para hamba dari Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Siapa 			yang dikehendaki menjadi kafir, kafirlah dia, dan siapa yang 			dikehendakiNya menjadi mukmin, mukminlah dia. Tetapi Alloh 			Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak ridha dengan keburukan dan kejahatan dan 			tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan, 			mencintai dan meridhainya. Orang yang baik dari umat Muhammad 			Shallallahu&#8217;alaihi wasallam masuk Surga bukan karena kebaikannya 			(tetapi karena rahmatNya). Dan orang jahat masuk Neraka bukan 			karena kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan 			keinginan dan kehendakNya, maka segala sesuatu dimudahkan bagi 			orang yang diperuntukkannya, sebagaimana yang terdapat dalam 			hadits. (Riwayat Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">Aku mengakui hak 			pendahulu Islam yang sholeh yang dipilih oleh Alloh Subhanahu wa 			Ta&#8217;ala untuk menyertai NabiNya, mengambil keutamaannya. Aku 			menutup mulut dari apa yang terjadi di antara mereka, pertentangan 			ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu 			Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiallahu 			&#8216;anhum. Mereka adalah Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan 			lisanku, bahwa Al-Qur&#8217;an adalah kalamullah yang diturunkan, bukan 			makhluk yang diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh (ucapan 			seseorang yang melafazhkan Al-Qur&#8217;an apakah makhluk atau bukan) 			adalah bid&#8217;ah, begitu pula sikap tawaqquf (diam, tidak mau 			mengatakan Al-Qur&#8217;an itu bukan makhluk, juga tidak mau mengatakan 			Al-Qur&#8217;an itu makhluk&#8221;) adalah bid&#8217;ah. Iman adalah ucapan dan 			amalan yang mengalami pasang surut. (Lihat Al-Amru bil Ittiba&#8217;, 			As-Suyuthi, hal. 152-154, tahqiq Mustofa Asyur; Ijtima&#8217;ul Juyusyil 			Islamiyah, Ibnul Qayyim, 165).</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;"><strong>Kesimpulan 			wasiat di atas yaitu:</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Aqidah Imam Syafi&#8217;i 			adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Sumber aqidah 			Imam Syafi&#8217;i adalah Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Beliau pernah 			mengucapkan: sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak 			diterima) kecuali dengan (dasar) Kitabulloh atau Sunnah RasulNya. 			Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan 			As-Sunnah, maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). 			Waallu a&#8217;lam. ( Manaqibusy Syafi&#8217;i, 1/470&amp;475)</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Manhaj Imam 			Syafi&#8217;i dalam aqidah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Alloh 			Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan RasulNya, dan menolak apa yang ditolak 			oleh Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan RasulNya. Karena itu beliau 			menetapkan sifat istiwa&#8217; (Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala bersemayam di 			atas), ru&#8217;yatul mukminin lirrabbihim (orang mukmin melihat 			Tuhannya) dan lain sebagainya.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Dalam hal 			sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Imam Syafi&#8217;i mengimani 			makna zhahirnya lafazh tanpa takwil (meniadakan makna tersebut) 			apalagi ta&#8217;thil (membelokkan maknanya). Beliau berkata: &#8220;Hadits 			itu berdasarkan zhahirnya. Dan jika ia mengandung makna lebih dari 			satu, maka makna yang lebih mirip dengan zhahirnya itu yang lebih 			utama.&#8221; (Al-Mizanul Kubra, 1/60; Ijtima&#8217;ul Juyusy, 95).</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Imam Syafi&#8217;i pernah 			ditanya tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang harus 			diimani, maka beliau menjawab, bahwa Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala 			memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh 			kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang 			pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya 			karena Al-Qur&#8217;an turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat 			itu.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Maka barangsiapa 			yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun 			sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma&#8217;dzur (diampuni) karena 			kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat Alloh Subhanahu 			wa Ta&#8217;ala) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. 			Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat 			&#8220;Yadaini&#8221; (dua tangan), dengan firmanNya, yang artinya: 			&#8220;Tetapi kedua tangan Alloh terbuka&#8221; (QS: Al-Maidah: 64). 			Dia memiliki wajah, dengan firmanNya, yang artinya: &#8220;Tiap-tiap 			sesuatu pasti binasa, kecuali wajahNya&#8221; (QS: Al-Qashash: 			88).&#8221; (Manaqib Asy-Syafi&#8217;i, Baihaqi, 1/412-413; Ushul I&#8217;tiqad 			Ahlis Sunnah, Al-Lalikai, 2/702; Siyar A&#8217;lam An-Nubala&#8217;, 10/79-80; 			Ijtima&#8217; Al-Juyusy Al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, 94).</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Kata-kata 			&#8220;As-Sunnah&#8221; dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi&#8217;i 			dimaksudkan untuk tiga arti. Pertama, adalah apa saja yang 			diajarkan dan diamalkan oleh Rasululloh, berarti lawan dari 			bid&#8217;ah. Kedua, adalah aqidah shahihah yang disebut juga tauhid 			(lawan dari kalam atau ra&#8217;yu). Berarti ilmu tauhid adalah bukan 			ilmu kalam begitu pula sebaliknya. Imam Syafi&#8217;i berkata: &#8220;Siapa 			yang mendalami ilmu kalam, maka seakan-akan ia telah menyelam ke 			dalam samudera ketika ombaknya sedang menggunung&#8221;. 			(Al-Mizanul Kubra, Asy-Sya&#8217;rani, 1/60). Ketiga, As-Sunnah 			dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yang datang dari 			Rasululloh selain Al-Qur&#8217;an.</span></p>
<p style="margin-bottom:.2in;" align="justify"><span style="color:#003300;">-Ahlus Sunnah 			disebut juga oleh Imam Syafi&#8217;i dengan sebutan Ahlul Hadits. Karena 			itu beliau juga berwasiat: &#8220;Ikutilah Ahlul Hadits, karena 			mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya.&#8221; (Al-Adab 			Asy-Syar&#8217;iyah, Ibnu Muflih, 1/231). &#8220;Ahli Hadits di setiap 			zaman adalah bagaikan sahabat Nabi.&#8221; (Al-Mizanul Kubra, 1/60)<br />
Di antara Ahlul Hadits yang diperintahkan oleh Imam Syafi&#8217;i 			untuk diikuti adalah Imam Ahmad bin Hanbal, murid Imam Syafi&#8217;i 			sendiri yang menurut Imam Nawawi: &#8220;Imam Ahmad adalah imamnya 			Ashhabul Hadits, imam Ahli Hadits.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#003300;">(Sumber Rujukan: Al-Majmu&#8217;, Syarhul Muhazzab; 			Siar A&#8217;lam, 10/5-6; Tadzkiratul Huffazh, 1/361; dan sebagaimana 			dilihat pada setiap penggalan diatas).</span></p>
<p><a href="#top"><br />
</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/biwirjeding.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/biwirjeding.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=11&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/08/12/wasiat-aqidah-imam-syafii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://biwirjeding.files.wordpress.com/2008/08/butterfly2.jpg?w=179" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Makna Syahadatain, Rukun, Syarat, Konsekuensi Dan Yang Membatalkannya</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 13:22:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN [A]. Makna Syahadat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; Yaitu beri&#8217;tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, menta&#8217;ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=9&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan</p>
<p>PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN<br />
[A]. Makna Syahadat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;<br />
Yaitu beri&#8217;tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, menta&#8217;ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, &#8220;Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah&#8221;. Khabar &#8220;Laa &#8221; harus ditaqdirkan &#8220;bi haqqi&#8221; (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan &#8220;maujud &#8221; (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.<span id="more-9"></span><br />
Kalimat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:<br />
[1]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada sesembahan kecuali Allah&#8221;, Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.<br />
[2]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada pencipta selain Allah&#8221; . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.<br />
[3]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah&#8221;. Ini juga sebagian dari makna kalimat &#8221; &#8220;. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas. </p>
<p>[B]. Makna Syahadat &#8220;Anna Muhammadan Rasulullah&#8221;<br />
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta&#8217;ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah<br />
Allah kecuali dengan apa yang disyari&#8217;atkan. </p>
<p>KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN<br />
[A]. Rukun &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;<br />
Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:<br />
An-Nafyu atau peniadaan: &#8220;Laa ilaha&#8221; membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.<br />
Al-Itsbat (penetapan): &#8220;illallah&#8221; menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.<br />
Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur&#8217;an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
&#8220;Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat &#8230;&#8221; [Al-Baqarah: 256]<br />
Firman Allah, &#8220;siapa yang ingkar kepada thaghut&#8221; itu adalah makna dari &#8220;Laa ilaha&#8221; rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, &#8220;dan beriman kepada Allah&#8221; adalah makna dari rukun kedua, &#8220;illallah&#8221;. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku &#8230;&#8221;. [Az-Zukhruf: 26-27]<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala , &#8220;Sesungguhnya aku berlepas diri&#8221; ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, &#8220;Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku&#8221;, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua. </p>
<p>[B]. Rukun Syahadat &#8220;Muhammad Rasulullah&#8221;<br />
Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat &#8220;&#8216;abduhu wa rasuluh &#8221; hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.<br />
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, &#8230;&#8217;.&#8221; [Al-Kahfi : 110]<br />
Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memujinya:<br />
&#8220;Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.&#8221; [Az-Zumar: 36]<br />
&#8220;Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur&#8217;an) &#8230;&#8221;[Al-Kahfi: 1]<br />
&#8220;Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram &#8230;&#8221; [Al-Isra': 1]<br />
Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).<br />
Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.<br />
Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena&#8217;wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya. </p>
<p>KETIGA: SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN<br />
[A]. Syarat-syarat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;<br />
Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah: </p>
<p>1. &#8216;Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).<br />
2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).<br />
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).<br />
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).<br />
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.<br />
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).<br />
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha&#8217; (kebencian).<br />
Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:<br />
Syarat Pertama: &#8216;Ilmu (Mengetahui).<br />
Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya :&#8230; Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86]<br />
Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna. </p>
<p>Syarat Kedua: Yaqin (yakin).<br />
Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu &#8230;&#8221; [Al-Hujurat : 15]<br />
Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
&#8220;Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.&#8221; [HR. Al-Bukhari]<br />
Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga. </p>
<p>Syarat Ketiga: Qabul (menerima).<br />
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.<br />
Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta&#8217;ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: &#8216;Laa ilaaha illallah&#8217; (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: &#8220;Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?&#8221; [Ash-Shafat: 35-36]<br />
Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah.<br />
Syarat Keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat).<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya : Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.&#8221; [Luqman : 22]<br />
Al-&#8217;Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah). </p>
<p>Syarat Kelima: Shidq (jujur).<br />
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: &#8216;Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian&#8217;, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.&#8221; [Al-Baqarah: 8-10]</p>
<p>Syarat Keenam: Ikhlas.<br />
Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya&#8217; atau sum&#8217;ah. Dalam hadits &#8216;Itban, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.&#8221; [HR. Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Syarat Ketujuh: Mahabbah (Kecintaan).<br />
Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai<br />
orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.&#8221; [Al-Baqarah: 165]<br />
Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah. </p>
<p>[B]. Syarat Syahadat &#8220;Anna Muhammadan Rasulullah&#8221;<br />
1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.<br />
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.<br />
3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.<br />
4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.<br />
5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.<br />
6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.<br />
KEEMPAT: KONSKUENSI SYAHADATAIN<br />
[A]. Konsekuensi &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;<br />
Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala ma-cam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah . Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah.<br />
Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.<br />
Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid&#8217;ah. Mereka menolak para da&#8217;i yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah semata. </p>
<p>[B]. Konsekuensi Syahadat &#8220;Muhammad Rasulullah&#8221;<br />
Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal bid&#8217;ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang. </p>
<p>KELIMA: YANG MEMBATALKAN SYAHADATAIN<br />
Yaitu hal-hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seseorang masuk dalam Islam. Mengucap-kan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.<br />
Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha&#8217; dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul &#8220;Bab Riddah (kemurtadan)&#8221;. Dan yang terpenting adalah sepuluh hal, yaitu: Syirik dalam beribadah kepada Allah.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.&#8221; [An-Nisa': 48]<br />
&#8220;Artinya : &#8230; Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.&#8221; [Al-Ma'idah: 72]<br />
Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain.<br />
Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara. Ia berdo&#8217;a kepada mereka, meminta syafa&#8217;at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma&#8217;. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau mem-benarkan madzhab mereka, dia itu kafir.<br />
Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir.<br />
Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sekali pun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir.<br />
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8216;Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?&#8217; Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman.&#8221; [At-Taubah: 65-66]<br />
Sihir, di antaranya sharf dan &#8216;athf (barangkali yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Barangsiapa melakukan atau meridhainya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : &#8230; sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada se-orangpun sebelum mengatakan: &#8216;Sesungguhnya kami hanya co-baan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir&#8217;.&#8221;[Al-Baqarah: 102]<br />
Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.&#8221; [Al-Ma'idah: 51]<br />
Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari&#8217;at Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa alaihis salam, maka ia kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan/ melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam .<br />
Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.&#8221; [As-Sajadah: 22]<br />
Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: &#8220;Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksaNya yang pedih.&#8221; </p>
<p>[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq]</p>
<p><a href="#top">Back to top</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/biwirjeding.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/biwirjeding.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=9&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembagian Tauhid</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/pembagian-tauhid/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/pembagian-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 13:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[PEMBAGIAN TAUHID Oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari Pertanyaan Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari ditanya : Selama ini dalam berbagai kesempatan, saya banyak mendengar dari orang-orang yang mengatakan bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Dari manakah pembagian ini, mengingat di dalam Al-Qurâ€™an dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=7&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PEMBAGIAN TAUHID</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari ditanya : Selama ini dalam berbagai kesempatan, saya banyak mendengar dari orang-orang yang mengatakan bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Dari manakah pembagian ini, mengingat di dalam Al-Qurâ€™an dan hadits tidak disebutkan. Dan menurut kami, hal itu tidak didapati pula pada zaman Rasulullah Shallallahu â€˜alaihi wa sallam ataupun shahabat. Bukankah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?<span id="more-7"></span></p>
<p>Jawaban<br />
Kami katakan, bahwa pembagian yang disyaratkan tersebut kedudukannya seperti pembagian para pakar ilmu Nahwu terhadap kata dalam bahasa Arab menjadi isim (nama), fiâ€™il (kata kerja) dan harf (imbuhan). Apakah yang demikian itu suatu hal tercela, padahal sesuai dengan kenyataan dan hakekat perkaranya.<br />
Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya â€œAt-Tahdzirâ€ halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : â€œPembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim. Begitu pula Syaikh Zabidi dalam â€œTaaj Al-Aruusâ€ dan Syaikh Syanqithi dalam â€œAdhwa Al-Bayaanâ€ dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya<br />
Ini adalah hasil telaah yang paripurna dari nash-nash syarâ€™i , seperti yang dikenal dalam setiap bidang ilmu. Seperti hasil telaâ€™ah pakar ilmu Nahwu terhadap bahasa Arab menjadi : isim, fiâ€™il dan harf. Dan orang-orang Arab tidak mencela dan melecehkan para pakar Nahwu tersebut terhadap hasil telaâ€™ahnyaâ€.<br />
Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam â€œSyarh Jauharah At-Tauhidâ€ halaman 97. Firman Allah ; â€˜Alhamdulillahir rabbil â€˜alamiinâ€™, mengisyaratkan pada pengakuan â€˜Tauhid Rububiyah, yang konsekwensinya adalah pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah. Adapun konsekwensi Tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Ubudiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah Yang Maha Suci. Kata beliau selanjutnya : â€œKebanyakan surat-surat Al-Qurâ€™an dan ayat-ayatnya mengandung macam-macam tauhid ini, bahkan Al-Qurâ€™an dari awal hingga akhir menerangkan dan mengejawantahkan (menjelaskan)â€.<br />
Kami katakan : â€œSesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini, dikandung dalam banyak surat di dalam Al-Qurâ€™an Al-Karim. Yang paling tampak serta paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al-Fatihah dan An-Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-qurâ€™an.<br />
Oleh karena itu firman-Nya Yang Maha Suci ; â€˜Alhamdulillahir rabbil â€˜alamiinâ€™, mengandung pengukuhan akan ke-rububiyah-an Allah Jalla wa Alaa terhadap seluruh makhluk-Nya, dan firman-Nya Yang Maha Suci : â€˜Ar-Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid Diinâ€™ di disini mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi dan nama-nama-Nya Yang Maha Mulia, sedangkan firman-Nya Yang Maha Suci : â€˜Iyaaka Naâ€™budu Wa Iyaaka Nastaâ€™iinâ€™ di sana mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.<br />
Kemudian berkata Imam Ibnu Athiyah (wafat ; 546H) dalam kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz I, hal.75. Firman-Nya : &#8220;Iyaaka Na&#8217;budu&#8221; adalah ucapan seorang yang beriman kepada-Nya yang menunjukkan pengakuan terhadap ke-rububiyah-an Allah, mengingat kebanyakan manusia beribadah kepada selain-Nya yang berupa berhala-berhala dan lain sebagainyaâ€.<br />
Jadi pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil telaâ€™ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki.<br />
Wallahu â€˜alam</p>
<p>[Diangkat dari rubrik soal-jawab majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal 1413H. Disalin ulang oleh Majalah As-Sunnah Edisi 14/II/1416 â€“ 1995. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A Surakarta 57152]</p>
<p><a href="#top">Back to top</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/biwirjeding.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/biwirjeding.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=7&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/pembagian-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGAIMANA SEMESTINYA ANDA BERGAUL DENGAN TETANGGA YANG BUKAN MUSLIM, SUNNI DAN TAAT</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/bagaimana-semestinya-anda-bergaul-dengan-tetangga-yang-bukan-muslim-sunni-dan-taat/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/bagaimana-semestinya-anda-bergaul-dengan-tetangga-yang-bukan-muslim-sunni-dan-taat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 13:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[BAGAIMANA SEMESTINYA ANDA BERGAUL DENGAN TETANGGA YANG BUKAN MUSLIM, SUNNI DAN TAAT Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Jika tetanggamu seorang muslim, sunni dan taat, maka wajib bagimu memenuhi seluruh hak-haknya yang telah (kita) lewati penjelasannya. Adapun [1] jika tetangga tersebut suka berbuat dosa besar, adakalanya dia berbuat secara sembunyi-sembunyi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=6&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAGAIMANA SEMESTINYA ANDA BERGAUL DENGAN TETANGGA YANG BUKAN MUSLIM, SUNNI DAN TAAT</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi</p>
<p>Jika tetanggamu seorang muslim, sunni dan taat, maka wajib bagimu memenuhi seluruh hak-haknya yang telah (kita) lewati penjelasannya.<br />
Adapun [1] jika tetangga tersebut suka berbuat dosa besar, adakalanya dia berbuat secara sembunyi-sembunyi dan menutup pintunya, maka berpalinglah dan jangan pedulikan. Bila mampu menasehati dan memperingatkannya secara rahasia-rahasia, maka ini lebih baik lagi.<span id="more-6"></span><br />
Tetapi jika dia terang-terangan dengan perbuatan fasiknya, seperti penarik bea (tukang pungut liar, -ed) atau pelaku riba, maka jauhilah ia dengan cara yang baik.<br />
Begitu pula jika dia sering meninggalkan shalat, maka perintahkanlah dia dengan cara yang baik dan cegahlah dia dari perbuatan mugkar berulang-ulang. Kalau tidak mau menerima, maka jauhilah ia karena Allah. Barangkali dengan cara dijauhi, dia akan kembali dan dapat mengambil manfaat. Tetapi tanpa memutus pembicaraan, salam dan hadiahmu terhadapnya.<br />
Dan jika engkau melihat dia melampui batas dan membangkang serta jauh dari kebaikan, maka berpalinglah darinya dan berusahalah untuk berpindah dari sampingnya [2] bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berlindung dari tetangga yang jelek di daerah tempat tinggal.<br />
Kalau tetangganya seorang dayyuts (suka membiarkan keluarganya melakukan maksiat, ed) atau sedikit rasa cemburunya, atau istrinya tidak berada di atas jalan yang lurus, maka berpindahlah daripadanya. Atau bersungguh-sungguhlah agar mereka tidak mengganggu istrimu. Karena dalam perkara tersebut ada kerusakan yang besar. Dan khawatirlah kamu atas jiwamu yang perlu dikasihani. Jangan kamu masuki rumahnya dan putuskan hubungan kasih sayang sebisa mungkin&#8230;<br />
Kalau kamu tidak mau menerima nasehat dariku, barangkali pada dirimu ada hawa nafsu dan rasa tamak. Serta engkau telah terkalahkan oleh nafsumu, anakmu, pembantumu atau saudara perempuannmu.<br />
Dan jika kamu berkeinginan untuk memaksa mereka pindah dari sampingmu, maka lakukan dengan lembut, dengan bujukan dan dengan ancaman.<br />
Kalau tetanggamu seorang Rafidhah atau pelaku kebid&#8217;ahan yang besar, jika kamu mampu untuk mendidik dan menunjukinya, maka lakukan semaksimal mungkin.<br />
Jika tidak mampu, maka menghindarlah darinya, janganlah kamu berkasih-sayang dan bersahabat dengannya, serta janganlah kamu menjadi teman dan mitra baginya.<br />
Dan kalau tetanggamu seorang Yahudi atau Nasharani baik di rumah, di pasar atau di kebun, maka bertetanggalah dengan baik [3] dan janganlah kamu mengganggunya.<br />
Adapun orang yang kebiasaannya memenuhi undangan mereka, berteman dengan mereka dan bersikap toleransi terhadap mereka [4], maka sesungguhnya imannya sudah tipis. Karena Allah Ta&#8217;ala berfirman.<br />
&#8220;Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya&#8221; [Al-Mujadilah : 22]<br />
Kalau dia disamping sebagai tetangga juga sebagai kerabatmu, atau berhubungan rahim denganmu, maka haknya lebih kuat lagi.<br />
Demikian pula jika salah seorang dari orang tuamu seorang dzimmi (kafir tapi tidak memerangi Islam), maka sesungguhnya bagi kedua orang tua dan hubungan rahim mempunyai hak yang berada di atas hak-hak tetangga. Maka berilah setiap orang yang mempunyai hak sesuai dengan proporsinya.<br />
Begitu pula menjawab salam. Janganlah kamu mendahului salah seorang dari mereka [5] dengan mengucapkan salam. Tetapi jika salah seorang dari mereka mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan &#8216;Wa &#8216;alaykum&#8217; (Dan untuk kamu juga) [6].<br />
Adapun ucapan :&#8221;Selamat pagi&#8221; dan &#8220;Selamat sore&#8221;, maka ini tidak mengapa. Asalkan di dalam menjawab tidak berlebihan dan melampui batas.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman.<br />
&#8220;Artinya : &#8230; maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir&#8221; [Al-Maidah : 54]<br />
Maka seorang mukmin harus bersikap tawadhu&#8217; terhadap sesama kaum mukminin dan merendahkan diri kepada mereka. Keras kepada orang-orang kafir dan tidak mengaku-aku dirinya sesat kepada mereka, demi mengagungkan kehormatan Islam dan memuliakan agama, tanpa menyakiti mereka. Serta tidak mencintai mereka sebagaimana cintanya kepada seorang muslim.<br />
[Disalin dari buku Etika Bertetangga karya Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, alih bahasa Arif Mufid MF, bab Bagaimana (semestinya) anda bergaul dengan tetangga yang bukan Muslim, sunni dan Taat, hal. 37 - 41, terbitan Yayasan Al-Madinah - Surakarta]<br />
_________<br />
Foot Note.<br />
[1]. Dari sini dinukil secara ringkas dari buku Haqqu al-Jaar (46-49), karya Al-Imam Adz-Dzahabi.<br />
[2]. Berlindung (kepada Allah) Dari Tetangga Yang Jelek.<br />
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdo&#8217;a.<br />
&#8220;Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari tetangga jelek di daerah tempat tinggal. Karena seseungguhnya tetangga orang-orang Badui selalu berpindah-pindah&#8221;.<br />
[Hadits Shahih, telah saya takhrij dalam ta'liq saya terhadap At-Tuhfah An-Nadhiyyah bi Syarh Al-Lamiyyah Al-Wardiyyah (bait : 57) karya Al-Ghazali, dan masih dicetak]<br />
[3]. Dan diperbolehkan menjengungknya tatkala sakit. Adapun tatkala mati maka tida boleh berbela sungkawa. berdasarkan hadits Ali radhiyallahu anhu. tatkala bapaknya -Abu Thalib- meninggal dunia, maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bersabda kepadanya : &#8220;Artinya : Pergi, dan timbunlah ia&#8221;. Maka Ali tidak berbela sungakawa. (Diriwayatkan oleh Ahmad (807) dan (759), Abu Dawud (3214) dan Nasa&#8217;i (1/110) dari dua jalan dari Ali dengan sanad yang shahih. Lihat Talkhis al-Habir (2/114).<br />
[4]. Seperti mendatangi hari-hari raya mereka dengan mengucapkan selamat hari raya kepada mereka. Hal ini tidak diperbolehkan. Karena dalam perbuatan tersebut tersirat pengakuan atas perubahan-perubahan yang terjadi pada agama mereka. Dan tidak samar lagi bahwa hari-hari raya mereka adalah bagian dari agama mereka.<br />
[5]. Yaitu orang Yahudi dan Nashrani<br />
[6]. Lihat Silsilah al-Hadits ash-Shahihah (2/324-330)</p>
<p><a href="#top">Back to top</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/biwirjeding.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/biwirjeding.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=6&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/11/bagaimana-semestinya-anda-bergaul-dengan-tetangga-yang-bukan-muslim-sunni-dan-taat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Orang Yang Mengaku Mengetahui Yang Ghaib</title>
		<link>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/10/hukum-menggantungkan-ayat-ayat-al-quran-di-dinding/</link>
		<comments>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/10/hukum-menggantungkan-ayat-ayat-al-quran-di-dinding/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 08:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bakekok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biwirjeding.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[HUKUM ORANG YANG MENGAKU MENGETAHUI YANG GHAIB Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum orang yang mengaku mengetahui yang ghaib ? Jawaban. Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Taâ€™ala. Dia berfirman. â€œArtinya : Katakanlah : â€œTidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=3&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HUKUM ORANG YANG MENGAKU MENGETAHUI YANG GHAIB</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum orang yang mengaku mengetahui yang ghaib ?</p>
<p>Jawaban.<br />
Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Taâ€™ala. Dia berfirman.<span id="more-3"></span></p>
<p>â€œArtinya : Katakanlah : â€œTidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allahâ€, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkanâ€ [An-Naml : 65]</p>
<p>Allah memerintahkan kepada NabiNya Muhammad Shallallahu â€˜alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Taâ€™ala. Sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Taâ€™ala tentang khabar ini. Kita tanyakan kepada mereka : Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, sedangkan Nabi saja tidak mengetahui ? Apakah kalian lebih mulia daripada Rasul Shallallahu â€˜alaihi wa sallam ? Jika mereka menjawab : â€œKami lebih mulia daripada Rasul Shallallahu â€˜alaihi wa sallam, maka mereka telah kafir karena ucapan itu. Jika mereka mengatakan : Bahwa Rasul Shallallahu â€˜alaihi wa sallam lebih mulia, maka kami katakan : Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian mengetahui ? Allah berfirman.</p>
<p>â€œArtinya : (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnyaâ€ [Al-Jin : 26-27]</p>
<p>Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan atas kafirnya orang yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Subhanahu wa Taâ€™ala telah memerintahkan NabiNya Shallallahu â€˜alaihi wa sallam untuk mengabarkan kepada manusia dengan firmanNya.</p>
<p>â€œArtinya : Katakanlah : â€œAku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadakuâ€ [Al-Anâ€™am : 50]</p>
<p>[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]</p>
<p><a href="#top">Back to top</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/biwirjeding.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/biwirjeding.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/biwirjeding.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/biwirjeding.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=biwirjeding.wordpress.com&amp;blog=2824287&amp;post=3&amp;subd=biwirjeding&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biwirjeding.wordpress.com/2008/02/10/hukum-menggantungkan-ayat-ayat-al-quran-di-dinding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da323630f34fdf3994e8c61e295dd927?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bakekok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
